ekonomi regional

Ekspor Hasil Laut Kabupaten Cirebon Tembus US$7,78 Juta, Gurita Beku Jadi Andalan

admin Diperbarui 17:34 3 menit membaca
Foto: Antaranews.com
Ukuran Teks:

Nilai ekspor komoditas hasil laut dan perikanan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mencapai 7,78 juta dolar AS selama Januari hingga September 2026. Dari sejumlah produk yang dipasarkan ke luar negeri, gurita beku menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor mencapai 3 juta dolar AS.

Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon mencatat, nilai ekspor hasil laut tersebut berkontribusi sekitar 2,73 persen terhadap total ekspor daerah yang mencapai 285,51 juta dolar AS pada periode yang sama.

Kepala Bidang Perdagangan dan Pengendalian Barang Pokok dan Penting Disperdagin Kabupaten Cirebon, Peni Sigiarsih, mengatakan komoditas perikanan memiliki peluang untuk dikembangkan melalui perluasan pasar dan penguatan kualitas produk.

Gurita Beku Mendominasi Ekspor Perikanan

Berdasarkan data Disperdagin Kabupaten Cirebon, gurita beku menempati posisi teratas dalam ekspor hasil laut dengan nilai 3 juta dolar AS. Komoditas berikutnya adalah ikan beku yang mencatatkan nilai ekspor sebesar 2,56 juta dolar AS.

“Gurita beku menyumbang sekitar 38,59 persen dari total ekspor hasil laut dan perikanan, sementara ikan beku berkontribusi 32,97 persen,” katanya.

Selain kedua komoditas tersebut, ekspor daging rajungan dan kepiting tercatat sebesar 1,15 juta dolar AS. Cumi beku menyusul dengan nilai 1,03 juta dolar AS, sedangkan ekspor kulit kerang mencapai 28.750 dolar AS.

Data tersebut menunjukkan bahwa gurita beku dan ikan beku menjadi dua komoditas utama dalam perdagangan hasil laut Kabupaten Cirebon ke pasar internasional selama sembilan bulan pertama 2026.

Promosi dan Pameran Jadi Strategi Perluasan Pasar

Untuk meningkatkan jangkauan pemasaran, Peni menyebut pelaku usaha dapat memanfaatkan promosi perdagangan, mengikuti pameran, serta menjajaki kerja sama dengan calon pembeli di negara tujuan ekspor.

Menurut dia, upaya memperluas pasar perlu diikuti dengan kemampuan menjaga mutu dan kapasitas produksi. Pelaku usaha juga harus memastikan ketepatan pengiriman serta memenuhi persyaratan ekspor yang berlaku agar dapat memenuhi kebutuhan pembeli internasional.

Informasi mengenai preferensi konsumen di negara tujuan juga penting untuk membantu eksportir menyesuaikan spesifikasi produk dengan standar dan permintaan pasar.

“Pemantauan tersebut dapat menjadi dasar evaluasi dalam mengenali peluang pasar dan menentukan komoditas yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan perdagangan daerah,” katanya.

Pemerintah Daerah Dampingi Pelaku Usaha

Disperdagin Kabupaten Cirebon turut mendorong koordinasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan eksportir. Kerja sama tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi kendala pemasaran maupun distribusi yang berpotensi menghambat perdagangan komoditas hasil laut.

Peni menjelaskan, produk asal Kabupaten Cirebon telah dipasarkan ke berbagai negara di kawasan Amerika, Eropa, Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika. Jangkauan tersebut menjadi peluang bagi komoditas perikanan untuk memperluas penetrasi ke pasar internasional.

“Kami tetap mendampingi setiap pelaku usaha, misalnya di sektor perikanan agar hasil bisnis mereka dapat dipasarkan ke luar negeri,” ucap dia.

Dengan nilai ekspor hasil laut sebesar 7,78 juta dolar AS hingga September 2026, penguatan promosi, konsistensi mutu, dan pemenuhan persyaratan ekspor menjadi sejumlah aspek yang didorong Disperdagin untuk mendukung pemasaran produk perikanan Kabupaten Cirebon.

Sumber:Antaranews.com

Tinggalkan komentar