ekonomi regional

Fanny Soegi hingga Ndarboy Meriahkan Keroncong Svaranusa 2026 di Boyolali

admin Diperbarui 17:32 3 menit membaca
Ukuran Teks:

Boyolali – Ribuan warga memadati Alun-Alun Kidul Boyolali, Jawa Tengah, untuk menyaksikan gelaran Keroncong Svaranusa 2026 pada Sabtu malam. Penampilan Fanny Soegi, Dhyo Haw, hingga Ndarboy menjadi daya tarik dalam acara yang memadukan musik populer dengan iringan orkestra keroncong tersebut.

Pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan musik keroncong kepada penonton dari berbagai kalangan, termasuk generasi muda.

Fanny Soegi membuka rangkaian penampilan dengan membawakan lagu “Bengawan Solo”, kemudian melanjutkannya dengan lagu populernya, “Asmalibrasi”. Ia juga menyapa ribuan penonton yang memenuhi kawasan alun-alun.

Setelah penampilan Fanny, Dhyo Haw tampil membawakan sejumlah lagu. Acara kemudian dilanjutkan dengan Ndarboy yang menyuguhkan beberapa lagu, di antaranya “Kicau Mania” dan “Jogja Istimewa”, dengan iringan orkestra keroncong.

Boyolali menjadi lokasi penyelenggaraan tahun kelima

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, mengatakan Keroncong Svaranusa 2026 merupakan penyelenggaraan kelima yang digelar kementerian tersebut.

Sebelum berlangsung di Boyolali, acara serupa telah diselenggarakan di Banyumas, Kediri, Blitar, dan Makassar.

“Sebelumnya ada di Banyumas, Kediri, Blitar, dan di Makassar. Ini adalah tahun spesial karena kebetulan saya juga lahir di Boyolali,” katanya.

Mahendra berharap kegiatan tersebut dapat menjaga keberlangsungan musik keroncong sekaligus memperluas minat masyarakat terhadap genre musik tersebut. Menurutnya, keroncong perlu mempertahankan nilai-nilai yang menjadi ciri khasnya sambil tetap menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

“Harapan kami nilai-nilainya tetap tapi elastis, agile, karena keroncong ternyata bisa mengikuti zaman,” katanya.

Potensi budaya lokal menjadi pertimbangan

Mahendra menjelaskan, pemilihan Boyolali sebagai lokasi kegiatan juga mempertimbangkan potensi kebudayaan daerah yang dinilai masih dapat dikembangkan lebih luas.

“Kita sudah banyak dengar, sebetulnya sudah dari tahun lalu, tapi belum kesempatan. Oleh karena itu kita persiapkan secara baik, dan alhamdulillah malam ini juga terbukti. Memang Boyolali harus disentuh dengan nilai-nilai keroncong ini, yang sebetulnya sudah banyak potensinya,” katanya.

Ia menyebut sejumlah kegiatan dan kesenian yang telah berkembang di Boyolali, antara lain tarian Topeng Ireng dan Merbabu Art Festival.

Kementerian Kebudayaan berharap pengembangan potensi tersebut dapat diperkuat agar kegiatan seni budaya di Boyolali memiliki kesinambungan dan berpeluang menjadi agenda tetap.

“Insya Allah tahun depan kami perkuat agar seperti Jazz Bromo dan sebagainya sehingga bisa menjadi agenda tetap,” katanya.

Pemkab Boyolali ingin keroncong semakin dekat dengan anak muda

Bupati Boyolali Agus Irawan menyambut baik penyelenggaraan Keroncong Svaranusa 2026 di wilayahnya. Ia menilai musik keroncong memiliki keterkaitan erat dengan identitas budaya masyarakat setempat.

“Keroncong ini bagian dari jati diri Boyolali, menjadi kesenian yang benar-benar melekat dengan warga Kabupaten Boyolali,” katanya.

Agus berharap musik keroncong semakin diminati masyarakat, terutama generasi muda. Ia melihat kehadiran banyak anak muda dalam acara tersebut sebagai salah satu hal yang menggembirakan.

“Tadi anak muda yang hadir juga banyak sekali. Antusiasnya sangat luar biasa. Semoga ke depan bisa juga membawa nama baik Kabupaten Boyolali, menjadi salah satu ikon Kabupaten Boyolali dengan kesenian kita yang sangat luar biasa sekali, ada keroncong, ada seni tari, ada wayang, yang semuanya benar-benar kita ingin angkat bersama-sama,” katanya.

Melalui Keroncong Svaranusa 2026, Boyolali menjadi ruang pertemuan antara musik keroncong dan penampilan musisi yang dikenal masyarakat luas. Pemerintah berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat apresiasi terhadap kesenian lokal sekaligus mendorong keroncong tetap relevan bagi generasi berikutnya.

Sumber:Antaranews.com

Tinggalkan komentar