ekonomi regional

Periklindo Minta Insentif Mobil Listrik Tak Hanya Berpihak pada Baterai Nikel

admin Diperbarui 17:38 4 menit membaca
Foto: antaranews.com
Ukuran Teks:

Jakarta – Rencana pemerintah memberikan insentif lebih besar bagi kendaraan listrik berbasis baterai nikel mendapat perhatian dari Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo). Organisasi tersebut menilai kebijakan insentif perlu mempertimbangkan perkembangan teknologi baterai, biaya produksi, serta kemampuan masyarakat membeli kendaraan listrik.

Ketua Umum Periklindo Moeldoko mengatakan, Indonesia memang memiliki sumber daya nikel yang melimpah. Namun, kondisi tersebut tidak berarti pengembangan baterai kendaraan listrik harus bergantung pada satu jenis material saja.

“Apakah materialnya itu harus dari nikel? Menurut saya tidak bisa dipaksakan seperti itu,” kata Moeldoko pada konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Menurut Moeldoko, pemilihan teknologi baterai perlu mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari ketersediaan bahan baku dan biaya produksi hingga kemampuan baterai dalam memenuhi kebutuhan pengguna. Faktor seperti jarak tempuh dan kecepatan pengisian daya juga menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan kendaraan listrik.

Ia menilai industri baterai nasional tetap perlu memanfaatkan potensi nikel yang dimiliki Indonesia. Meski demikian, riset dan pengembangan teknologi harus tetap terbuka terhadap material alternatif yang berpotensi menawarkan biaya lebih rendah dan ketersediaan bahan baku yang lebih baik.

Teknologi Baterai Alternatif Jadi Pertimbangan Insentif

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Umum Periklindo Bidang Pengembangan dan Penelitian Prabowo Kartoleksono. Ia menilai kebijakan insentif kendaraan listrik sebaiknya tidak hanya didasarkan pada penggunaan material baterai tertentu, tetapi juga memperhatikan perkembangan teknologi yang semakin beragam.

Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah lithium iron phosphate (LFP), yaitu jenis baterai yang tidak menggunakan nikel sebagai material utama katodanya.

Prabowo menjelaskan, teknologi LFP mengalami perkembangan dalam hal kepadatan energi. Menurut dia, kemampuan baterai tersebut kini semakin mendekati baterai berbasis nikel, mangan, dan kobalt atau nickel manganese cobalt (NMC), dengan biaya yang lebih rendah.

“Mungkin dulu teknologi pada kepadatan energi, LFP tidak sebaik NMC, namun sekarang kepadatan energinya sudah setara, tapi harganya 30 persen lebih murah,” kata Prabowo.

Selain LFP, baterai berbasis natrium atau sodium-ion juga tengah dikembangkan sebagai alternatif dalam industri kendaraan listrik global.

Keberadaan berbagai pilihan teknologi tersebut dinilai perlu menjadi bahan pertimbangan pemerintah ketika merancang kebijakan insentif. Dengan begitu, produsen memiliki keleluasaan menentukan jenis baterai berdasarkan kebutuhan kendaraan, target pasar, dan kemampuan konsumen.

Harga Kendaraan Listrik Berpotensi Terpengaruh

Periklindo menyoroti dampak kebijakan insentif terhadap harga jual kendaraan listrik, terutama pada segmen yang sensitif terhadap perubahan harga, seperti sepeda motor listrik.

Prabowo menilai, apabila insentif lebih besar hanya diberikan kepada kendaraan yang menggunakan baterai nikel, produsen berpotensi menghadapi keterbatasan dalam memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan pasar.

Ia juga mengingatkan bahwa biaya baterai dapat memengaruhi harga akhir kendaraan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena industri kendaraan listrik masih menghadapi tantangan untuk memperluas penjualan.

“Sementara kalau ingin mendapatkan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) itu harus pakai baterai nikel, baterai nikel itu sangat mahal,” ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya mempertimbangkan hubungan antara persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pilihan teknologi baterai, dan keterjangkauan harga kendaraan listrik.

Menurut Periklindo, kebijakan yang memperhitungkan berbagai jenis teknologi dapat memberikan ruang lebih luas bagi produsen untuk mengembangkan produk sesuai karakteristik pasar tanpa mengabaikan tujuan penguatan industri nasional.

Baterai Solid-State Dinilai Bisa Jadi Peluang Indonesia

Di tengah perdebatan mengenai insentif baterai nikel, Prabowo juga melihat teknologi baterai solid-state sebagai salah satu peluang untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia.

Baterai solid-state merupakan teknologi baterai generasi baru yang dinilai memiliki potensi kepadatan energi tinggi. Menurut Prabowo, teknologi ini juga dapat menggunakan nikel sehingga relevan dengan upaya Indonesia mengembangkan industri baterai berbasis sumber daya dalam negeri.

“Saat ini teknologi baterai solid-state itu bisa pakai nikel. Jadi kalau memang Indonesia mau masuk ke sana, masuklah ke teknologi solid-state baterai, selagi itu masih teknologi yang baru,” jelas Prabowo.

Ia menilai pengembangan teknologi tersebut dapat menjadi salah satu arah yang dipertimbangkan Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai industri baterai kendaraan listrik.

Dengan mengembangkan teknologi baru, Indonesia berpeluang tidak hanya mengandalkan ketersediaan bahan mentah, tetapi juga memperluas penguasaan teknologi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Pemerintah Matangkan Skema Insentif Kendaraan Listrik

Pemerintah saat ini tengah mematangkan skema insentif untuk pembelian kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di dalam negeri. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mendorong daya beli masyarakat sekaligus memperkuat industri kendaraan listrik nasional.

Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pemberian insentif lebih besar bagi mobil listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel.

Rencana tersebut sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan pemanfaatan sumber daya mineral dalam negeri dan memperkuat industri baterai nasional.

Namun, masukan Periklindo menunjukkan bahwa perumusan kebijakan insentif juga perlu memperhitungkan dinamika teknologi serta pengaruh biaya baterai terhadap harga kendaraan.

Keseimbangan antara pemanfaatan nikel domestik, pengembangan teknologi alternatif, dan keterjangkauan produk menjadi aspek penting agar kebijakan insentif dapat mendukung pertumbuhan industri sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap kendaraan listrik.

Sumber:Antaranews.com

Tinggalkan komentar