pangan dan lingkungan

Lekooh Hadirkan Rawon dan Coto Makassar Berbasis Resep Keluarga, Ini Keunikannya

admin Diperbarui 17:36 4 menit membaca
Foto: rri.co.id
Ukuran Teks:

JAKARTA — Berangkat dari keinginan memadukan dua latar belakang budaya dalam satu usaha, Desi Dwi Jayanti menghadirkan Lekooh, gerai kuliner yang menyajikan rawon khas Jawa Timur dan coto Makassar. Kedua hidangan tersebut menjadi menu utama yang merepresentasikan tradisi kuliner keluarga Desi dan suaminya.

Lekooh tidak hanya menawarkan dua makanan khas dari daerah berbeda, tetapi juga mengandalkan karakter racikan bumbu untuk membedakan produknya dari hidangan sejenis. Rawon disajikan dengan kuah pekat, sedangkan coto Makassar menggunakan olahan kacang bertekstur sangat halus sebagai dasar kuah.

“Jadi ceritanya ini kan kita mau ada dua kultur, dua budaya, tapi ada dalam satu rumah yang sama. Jadi kebetulan saya itu orang Jawa Timur, that’s why ada rawon, kemudian suami saya orang Makassar, that’s why ada coto Makassar,” ujar Desi kepada PRO 3 RRI, Minggu, 25 Oktober 2026.

Berawal dari Sistem Open Pre-Order

Perjalanan Lekooh dimulai pada November 2025. Sebelum membuka gerai fisik, Desi terlebih dahulu menjalankan usaha melalui sistem pemesanan terbuka atau open pre-order. Makanan dikirimkan kepada teman-temannya, yang kemudian memberikan respons positif terhadap produk yang ditawarkan.

Tingginya permintaan menjadi salah satu dorongan bagi Desi untuk mengembangkan usaha tersebut hingga memiliki gerai sendiri. Setelah menjalankan usaha selama lima tahun, ia akhirnya membuka gerai pertama Lekooh di bagian depan Oma Huis, Jalan Cikajang Nomor 74, Jakarta Selatan.

“Dulu kan saya open pre-order ya, belum punya outlet, kita kirim ke teman-teman dan ternyata penerimaan dari mereka itu cukup baik. Dalam satu bulan tuh orderannya nggak habis-habis,” katanya.

Kluwek dari Sulawesi Selatan Jadi Pembeda Rawon

Salah satu hal yang menjadi perhatian Lekooh dalam mengolah rawon adalah pemilihan kluwek. Bahan tersebut didatangkan dari Sulawesi Selatan dan menjadi bagian penting dalam membentuk cita rasa kuah.

Menurut Desi, kluwek yang digunakan memiliki tekstur lebih lembut dan aroma lebih harum. Karakter bahan tersebut menghasilkan kuah rawon yang lebih pekat, sehingga menjadi ciri khas hidangan yang disajikan Lekooh.

“Jadi, yang membedakan rawon Lekooh dengan banyak rawon yang lainnya, kami memiliki kuah yang lebih tebal. Karena kluweknya kami ngambil jauh sekali dari Sulawesi Selatan,” ujar Desi.

Penggunaan bahan tersebut memperlihatkan perhatian Lekooh terhadap racikan yang menjadi identitas menunya. Rawon tidak sekadar dihadirkan sebagai hidangan khas Jawa Timur, tetapi juga memiliki karakter tersendiri melalui pemilihan bahan utama.

Coto Makassar Jadi Menu Favorit Pelanggan

Meski rawon menjadi salah satu menu andalan, coto Makassar justru lebih banyak dipilih pelanggan. Hidangan khas Sulawesi Selatan tersebut diolah dengan rempah yang melimpah dan kuah berbahan kacang.

Perbedaan racikan coto Makassar Lekooh terletak pada tingkat kehalusan olahan kacang. Jika pada umumnya kacang untuk kuah coto tidak diblender terlalu halus, Lekooh mengolahnya hingga menghasilkan tekstur yang sangat lembut.

“Yang membedakan, biasanya kuah coto memakai kacang yang diblender tidak terlalu halus. Nah, kami malah membuat susu kacang yang sangat smooth, itu dijadikan bahan dasar utama dari kuahnya kami,” ucapnya.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu karakter yang ditawarkan Lekooh kepada pelanggan. Di tengah keberadaan berbagai hidangan tradisional, racikan kuah menjadi unsur yang membedakan penyajian coto Makassar di gerai tersebut.

Rawon dan Coto Makassar Dibanderol Rp55 Ribu

Lekooh menetapkan harga Rp55.000 per porsi untuk rawon maupun coto Makassar. Desi menyebut penetapan harga itu disesuaikan dengan bahan yang digunakan serta pengalaman bersantap yang ingin diberikan kepada pelanggan.

Seiring perkembangan usaha, Lekooh kini telah memiliki dua gerai. Selain lokasi pertamanya di Jalan Cikajang Nomor 74, Jakarta Selatan, pelanggan juga dapat menemukan Lekooh di Fresh Market Bintaro.

Berharap Coto Makassar Semakin Populer

Di balik pengembangan Lekooh, Desi memiliki harapan agar coto Makassar semakin dikenal luas oleh masyarakat. Ia ingin hidangan tersebut memiliki tingkat popularitas dan kemudahan akses seperti soto yang telah dikenal di berbagai daerah di Indonesia.

Keinginan itu juga menjadi bagian dari cita-citanya untuk membawa coto Makassar menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk hingga ke luar negeri.

“Jadi, saya bercita-cita ingin membuat coto ini sepopuler soto, semudah ditemukan soto. Pengennya sih punya gerai sampai ke luar negeri ya, untuk memperkenalkan coto Makassar ini sendiri,” katanya.

Melalui dua menu yang berangkat dari resep keluarga, Lekooh mengembangkan usaha kuliner dengan menggabungkan identitas Jawa Timur dan Makassar. Ke depan, Desi berharap coto Makassar dapat semakin mudah dijumpai dan dikenal oleh lebih banyak orang.

Sumber:rri.co.id

Tinggalkan komentar