pangan dan lingkungan

Menpar Dorong Kuliner Nusantara Jadi Magnet Wisata dan Produk Berdaya Saing Global

admin Diperbarui 17:34 4 menit membaca
Foto: Antaranews.com
Ukuran Teks:

Yogyakarta – Kekayaan kuliner Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat daya tarik pariwisata sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat. Melalui Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026, Kementerian Pariwisata mendorong cita rasa dan cerita di balik makanan Nusantara agar semakin dikenal di tingkat global.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, gastronomi tidak hanya berkaitan dengan pengalaman menikmati makanan, tetapi juga mencakup identitas budaya, potensi bisnis, dan hubungan sosial-ekonomi masyarakat.

Hal itu disampaikannya saat membuka WIG Talks 2026 di Grand Hotel De Djokja, Kota Yogyakarta, Jumat (2/10). Forum tersebut menghadirkan 22 pembicara yang terlibat dalam lima sesi diskusi dan satu sesi ulasan buku. Jumlah peserta bahkan melampaui target awal sebanyak 300 orang.

“Kita pertemukan pemerintah, pelaku industri, chef, praktisi, akademisi, dan komunitas untuk membicarakan gastronomi dari berbagai sisi, sebagai identitas dan penggerak sosial-ekonomi, bagaimana warisan kuliner dapat berkembang menjadi bisnis, potensi wisata gastronomi, hingga bagaimana rasa dan cerita Indonesia dapat dibangun menjadi narasi global,” kata Menpar.

Kuliner Diharapkan Menjadi Alasan Wisatawan Berkunjung

Widiyanti menilai pengembangan wisata gastronomi perlu diarahkan lebih jauh daripada sekadar memperkenalkan makanan khas kepada wisatawan. Kuliner diharapkan dapat menjadi alasan seseorang mengunjungi suatu daerah, mengenal kehidupan masyarakat setempat, serta memahami bahan pangan dan cerita budaya yang menyertainya.

Pendekatan tersebut membuka peluang agar aktivitas pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. Masyarakat yang terlibat dalam rantai gastronomi, mulai dari produsen bahan pangan hingga pelaku usaha kuliner, diharapkan ikut merasakan dampak dari meningkatnya kunjungan wisata.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat orang mencicipi makanan Indonesia. Kita ingin rasa menjadi alasan orang melakukan perjalanan, datang ke suatu daerah, bertemu masyarakatnya, mengenal bahan pangannya, mendengar ceritanya, lalu meninggalkan manfaat ekonomi bagi mereka yang hidup di sepanjang rantai gastronomi tersebut,” katanya.

Dengan pendekatan ini, kekayaan kuliner dapat menjadi penghubung antara pengalaman wisata, pengenalan budaya, dan penguatan ekonomi lokal. Potensi tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar produk serta cerita kuliner Indonesia dapat berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Artisan Market Buka Peluang Pasar bagi Produk Lokal

Selain diskusi, WIG Talks 2026 menghadirkan Artisan Market yang berlangsung pada 2–4 Oktober. Kegiatan ini melibatkan 21 tenan dari wilayah Joglosemar dan Jakarta, dengan target kunjungan hingga 1.300 orang selama tiga hari.

Pasar tersebut menjadi ruang bagi pelaku gastronomi untuk memperkenalkan produk sekaligus mempertemukan produsen dengan calon pembeli. Beragam produk yang ditampilkan menunjukkan luasnya potensi bahan baku lokal dan kreativitas pelaku usaha dalam menghasilkan produk bernilai tambah.

Pengunjung dapat menemukan beras dengan aroma khas, rempah pilihan, keju artisan berstandar internasional, teh dan kopi Nusantara, serta jamu tradisional yang dikembangkan dengan sentuhan modern.

Produk lainnya mencakup madu murni, gula kelapa organik, tempe berkualitas tinggi, kue kering artisanal, hingga minuman fermentasi seperti kombucha dan soda artisan.

Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa bahan pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk dengan karakter dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Dengan pengembangan yang tepat, produk-produk tersebut berpeluang menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk pasar global.

UMKM Perlu Terhubung dengan Industri dan Konsumen

Widiyanti menekankan bahwa pengembangan gastronomi membutuhkan ekosistem yang memungkinkan produsen dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperoleh akses terhadap pasar. Ruang pertemuan antara pelaku usaha, industri, dan konsumen menjadi salah satu bagian penting untuk memperluas peluang bisnis.

“Produsen dan UMKM dari berbagai daerah dipertemukan dengan pasar melalui beragam produk. Ini penting, karena ekosistem gastronomi hanya akan berkembang ketika mereka yang menghasilkan produk juga memperoleh akses kepada pembeli, industri, dan peluang pasar yang lebih luas,” kata Menpar.

Menurutnya, keberadaan ruang promosi dan pertemuan bisnis dapat membantu produk lokal dikenal oleh konsumen sekaligus membuka peluang kerja sama dengan industri. Upaya ini juga penting agar nilai ekonomi yang dihasilkan dari kekayaan kuliner tidak hanya dinikmati pada tahap akhir penjualan, tetapi turut mendukung para produsen dan pelaku usaha di daerah.

Pengembangan gastronomi dengan demikian tidak hanya berorientasi pada pelestarian warisan kuliner. Potensi tersebut juga dapat menjadi sumber nilai tambah melalui pengolahan produk, penguatan usaha, dan perluasan akses pasar.

Melalui WIG Talks 2026 dan Artisan Market, Kementerian Pariwisata mendorong agar kekayaan rasa Indonesia semakin terhubung dengan aktivitas perjalanan wisata dan peluang bisnis. Penguatan hubungan tersebut diharapkan membuat kuliner Nusantara tetap terjaga sebagai warisan budaya sekaligus berkembang sebagai sumber kesejahteraan masyarakat.

Sumber:Antaranews.com

Tinggalkan komentar