Indramayu – Upaya meningkatkan efisiensi energi di industri pengolahan minyak tidak selalu harus dimulai dengan pembangunan fasilitas baru. PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Balongan, Indramayu, Jawa Barat, memanfaatkan kembali hidrogen yang sebelumnya dialirkan ke sistem pembakaran gas suar atau flare untuk mendukung operasional kilang.
Inisiatif tersebut menghasilkan penghematan konsumsi gas alam sekitar 2,8 juta kaki kubik standar per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD). Efisiensi ini diperkirakan mampu mengurangi biaya hingga Rp45 miliar per tahun sekaligus menekan emisi dari kegiatan operasional.
Pemanfaatan kembali hidrogen menjadi salah satu langkah untuk mengurangi kehilangan energi dalam proses pengolahan minyak. Gas yang sebelumnya dibakar melalui sistem keselamatan kini dapat digunakan sebagai bahan bakar setelah melalui evaluasi teknis dan pengujian operasional.
Kilang Balongan sendiri memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah mencapai 150.000 barel per hari. Sekitar 82 persen hasil produksinya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan energi di Jakarta dan Jawa Barat. Dengan skala produksi tersebut, efisiensi penggunaan energi menjadi faktor penting untuk menjaga kinerja kilang.
Hidrogen yang Terbuang Menjadi Peluang Efisiensi
Section Head Energy Conversion and Loss Control PT Pertamina Patra Niaga RU Balongan, Indra Cahyadi Kurniawan, menjelaskan bahwa sistem flare memiliki fungsi utama untuk menjaga keselamatan fasilitas pengolahan minyak. Sistem ini membakar gas hidrokarbon yang tidak dapat dimanfaatkan dalam kondisi tertentu sekaligus menjadi jalur pengamanan ketika tekanan proses meningkat.
“Flare ini fungsinya membakar gas-gas yang tidak bisa terpakai dan juga untuk keselamatan,” kata Indra Cahyadi Kurniawa saat ditemui ANTARA, akhir Agustus.
Keberadaan flare tetap diperlukan karena kondisi operasi kilang dapat berubah sewaktu-waktu. Ketika terjadi peningkatan tekanan atau gangguan proses, gas harus dialirkan melalui sistem pengamanan agar tidak keluar melalui jalur yang tidak semestinya.
Namun, gas yang masuk ke sistem tersebut juga perlu dievaluasi untuk mengetahui apakah sebagian alirannya masih dapat dimanfaatkan. Peluang itu kemudian ditelaah oleh Indra bersama timnya melalui pemantauan kehilangan energi dan evaluasi proses produksi.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Naphta Processing Unit (NPU), yaitu instalasi yang mengolah nafta menjadi komponen bahan bakar melalui proses lanjutan.
Dalam proses pengolahan tersebut, nafta yang memiliki angka oktan relatif rendah diproses melalui unit platforming. Dengan bantuan katalis dan hidrogen, reaksi reforming mengubah struktur hidrokarbon sehingga menghasilkan komponen bensin dengan angka oktan lebih tinggi.
Indra menjelaskan, nafta dari proses awal dapat memiliki angka oktan sekitar 60-70, sedangkan komponen bensin setelah proses reformasi dapat mencapai sekitar 90-95.
Proses tersebut juga menghasilkan hidrogen. Sebagian aliran hidrogen sebelumnya diarahkan ke flare, padahal gas itu masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi.
“Daripada terbuang, kami berpikir apakah hidrogen ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar,” kata Indra.
Jalur Perpipaan Lama Dioptimalkan Kembali
Setelah mengidentifikasi peluang tersebut, tim melakukan pemeriksaan terhadap fasilitas yang tersedia. Mereka menemukan jalur perpipaan yang sebelumnya digunakan pada tahap start-up, tetapi tidak dimanfaatkan secara rutin ketika unit beroperasi normal.
Jalur tersebut kemudian dievaluasi untuk memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan operasional. Pemeriksaan mencakup karakteristik gas, kondisi peralatan, kecocokan sistem pembakaran, serta kemungkinan perubahan yang dapat memengaruhi kestabilan proses.
Tim selanjutnya menguji pemanfaatan hidrogen melalui fasilitas yang ada tanpa mengubah komponen burner. Komposisi hidrogen dinaikkan secara bertahap sambil memantau kestabilan operasi dan memastikan batas keselamatan tetap terpenuhi.
Porsi hidrogen yang sebelumnya sekitar 30 persen ditingkatkan hingga mendekati 50 persen. Penyesuaian dilakukan secara terukur dan dihentikan pada batas pengoperasian yang dinilai aman.
“Setelah stabil, hidrogen yang sebelumnya masuk flare bisa kita manfaatkan untuk fuel gas. Konsumsi gas alam ikut berkurang,” kata Indra.
Kajian pemanfaatan kembali gas tersebut dimulai pada akhir 2024. Setelah melalui proses evaluasi, penerapannya mulai dilakukan pada Januari 2025.
Langkah ini menunjukkan bahwa optimalisasi fasilitas yang sudah tersedia dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan efisiensi energi. Meski demikian, pemanfaatan kembali gas tetap harus memperhatikan karakteristik proses, kondisi peralatan, serta fungsi flare sebagai bagian dari sistem keselamatan kilang.
Penghematan Gas Alam Tekan Biaya dan Emisi
Hasil evaluasi penerapan pemanfaatan hidrogen di Kilang Balongan menunjukkan penghematan gas alam sekitar 2,8 MMSCFD. Perusahaan memperkirakan efisiensi tersebut dapat mengurangi biaya sekitar Rp45 miliar setiap tahun.
Selain manfaat ekonomi, langkah tersebut juga dikaitkan dengan penurunan emisi. Dalam sumber yang disampaikan, pengurangan emisi tercatat sekitar 8.239 ton setara 29.754 ton CO2eq.
Pengurangan aliran gas menuju flare membantu menekan pembakaran sekaligus mengurangi energi yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara produktif. Dengan demikian, upaya efisiensi tidak hanya berkaitan dengan penghematan biaya operasional, tetapi juga pengelolaan emisi dari proses pengolahan minyak.
Kilang Balongan memiliki tiga sistem flare, yakni pada NPU, Propylene Olefin Complex (POC), serta unit existing yang melayani sejumlah fasilitas pengolahan. Setiap sistem memiliki ukuran dan ketinggian berbeda sesuai kapasitas desain serta kebutuhan unit yang dilayaninya.
Optimalisasi yang dijelaskan Indra berfokus pada flare NPU karena aliran gasnya secara historis relatif besar dan berlangsung secara berkelanjutan dibandingkan sejumlah fasilitas lainnya.
Meski demikian, pengurangan pembakaran tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan fungsi keselamatan. Ketinggian menara dan jarak fasilitas flare ditentukan berdasarkan laju aliran gas, radiasi panas, serta skenario ketika seluruh aliran harus dialihkan ke sistem pembakaran.
Pemantauan dilakukan melalui koordinasi lintas fungsi. Operator mengawasi kondisi harian dan perubahan proses dari ruang kendali, sedangkan pemantauan kualitas lingkungan dikoordinasikan oleh bagian Health, Safety, Security, and Environment (HSSE).
Peluang Pemanfaatan Hidrogen Masih Dikaji
Setelah mengoptimalkan pemanfaatan hidrogen sebagai bahan bakar, tim Kilang Balongan juga mengkaji kemungkinan penggunaan gas tersebut untuk mendukung kebutuhan Hydrogen Treating Unit (HTU).
HTU merupakan unit yang menggunakan hidrogen dalam proses pemurnian bahan bakar, termasuk untuk membantu mengurangi kandungan sulfur pada produk tertentu. Apabila memenuhi persyaratan teknis, hidrogen yang sebelumnya menuju flare berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan energi sekaligus mendukung proses pemurnian.
Indra menegaskan bahwa peluang efisiensi setiap kilang tidak selalu sama. Perbedaan konfigurasi fasilitas, karakteristik bahan baku, dan proses produksi membuat kajian harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing instalasi.
Karena itu, pemanfaatan gas yang sebelumnya dibakar memerlukan analisis teknis sebelum diterapkan. Selain aspek keselamatan, kelayakan investasi dan potensi pasar juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan teknologi pengurangan emisi.
Upaya tersebut menjadi bagian dari kontribusi perusahaan terhadap target Net Zero Emission 2060. Pencapaian target tersebut membutuhkan pengurangan emisi dari kegiatan produksi yang disertai langkah untuk menangani emisi tersisa, termasuk melalui teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon.
“Kami melihat peluang dari proses yang sudah berjalan, lalu mengkaji bagaimana energi yang sebelumnya terbuang bisa dimanfaatkan kembali tanpa mengganggu keselamatan dan operasi kilang,” tuturnya.
Pengalaman Kilang Balongan memperlihatkan bahwa evaluasi terhadap proses yang telah berjalan dapat membuka peluang penghematan energi dan biaya. Dengan tetap mengutamakan keselamatan, pemanfaatan kembali hidrogen menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi industri.
Sumber:Antaranews.com