Samosir – Kekayaan budaya dan keindahan alam Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi karya ekonomi kreatif yang mampu menjangkau masyarakat luas. Untuk memperkuat kemampuan kreator lokal dalam mengolah potensi tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif menggelar lokakarya fotografi dan penulisan narasi.
Kegiatan bertajuk “Melihat, Mengenal, Bercerita Seni Potret dan Narasi” itu dilaksanakan melalui Workshop Aktivasi Creative Hub Samosir di Desa Situngkir, Kecamatan Pangururan, Senin (19/10).
Sebanyak 50 peserta dari berbagai kelompok profesi mengikuti kegiatan tersebut. Lokakarya menghadirkan fotografer jurnalistik dan dokumenter Ferdy Siregar serta Pendiri Komunitas Ngobrol Buku Eka Dalanta Tarigan. Diskusi dipandu Dian Barasa Manik, dengan melibatkan perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Samosir, Eben Ezer Pakpahan.
Direktur Penerbitan dan Fotografi Kementerian Ekonomi Kreatif, Iman Santoso, mengatakan Samosir mempunyai banyak kisah yang bersumber dari sejarah, tradisi, budaya, dan lanskap alamnya. Kekayaan tersebut perlu diolah menjadi karya visual dan tulisan yang mampu menggambarkan identitas daerah secara autentik.
“Di Samosir, segala sesuatu bercerita. Ulos bercerita, batu-batu di Huta Siallagan bercerita, pustaka bercerita, dan Danau Toba yang memeluk pulau ini sudah bercerita jauh sebelum kita lahir,” ujar Iman.
Menurutnya, potensi lokal tidak cukup hanya ditampilkan melalui gambar yang menarik. Kreator perlu memahami makna di balik objek yang diangkat agar pesan budaya dan kehidupan masyarakat dapat tersampaikan secara utuh.
Fotografi Harus Berangkat dari Kepekaan terhadap Subjek
Dalam lokakarya tersebut, Iman menekankan bahwa proses menghasilkan karya fotografi membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis menggunakan kamera. Kreator harus bersedia mengamati lingkungan, mengenali subjek, dan memahami cerita sebelum mengabadikannya.
Pendekatan itu penting agar karya yang dihasilkan tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga merepresentasikan kenyataan dan menghormati orang-orang yang menjadi bagian dari cerita.
“Melihat, bukan sekadar memotret. Potret yang kuat lahir dari mata yang mau berhenti dan memperhatikan. Mengenal, bukan sekadar bertanya nama. Mengenal berarti mendengarkan sebelum menekan tombol,” katanya.
Iman juga menyoroti pentingnya menggabungkan fotografi dengan kemampuan menulis. Foto dan narasi, menurutnya, dapat saling melengkapi dalam menyampaikan informasi serta memperkuat pemahaman pembaca terhadap suatu peristiwa atau kebudayaan.
“Foto yang tajam butuh kata yang jujur, dan kata yang jujur menjadi lebih kuat bersama foto yang tepat,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam pengembangan keterampilan peserta, terutama dalam menghasilkan karya yang tidak berhenti pada dokumentasi visual, tetapi juga memiliki konteks dan nilai cerita.
Fotografer dan Komunitas Literasi Berbagi Pengalaman
Untuk memperluas wawasan peserta, Kementerian Ekonomi Kreatif menghadirkan Ferdy Siregar yang berbagi pengalaman di bidang fotografi jurnalistik dan dokumenter.
Sementara itu, Eka Dalanta Tarigan membagikan pengalamannya membangun budaya literasi melalui Komunitas Ngobrol Buku yang telah berjalan sejak 2020.
Kehadiran kedua narasumber tersebut diharapkan dapat mempertemukan keterampilan fotografi dengan kemampuan menggali dan menyampaikan cerita secara tertulis. Peserta juga memperoleh kesempatan untuk memahami bagaimana kepekaan terhadap lingkungan sekitar dapat menjadi dasar dalam menghasilkan karya kreatif.
Iman menilai komunitas lokal mempunyai peran penting dalam mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kawasan Danau Toba. Salah satu contohnya adalah Komunitas Fotografer Danau Toba yang mengangkat warisan budaya melalui pameran bertajuk Toba Heritage.
Menurutnya, keterlibatan kreator dari daerah asal menjadi penting karena mereka memiliki kedekatan dengan lingkungan, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang diangkat dalam karya.
“Toba paling indah ketika diceritakan oleh orang Toba sendiri,” ujarnya.
Creative Hub Jadi Ruang Pengembangan Potensi Kreatif Daerah
Aktivasi Creative Hub Samosir merupakan bagian dari program unggulan Kementerian Ekonomi Kreatif yang juga mencakup Aktivasi Desa Kreatif dan Creative by Indonesia.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif serta membuka ruang bagi kreator daerah untuk mengembangkan keterampilan dan memperluas jangkauan karya mereka.
Iman menyebut Sumatera Utara, khususnya kawasan Danau Toba, memiliki potensi besar untuk menghasilkan produk kreatif yang berdaya saing. Penguatan kapasitas pelaku kreatif diperlukan agar kekayaan budaya setempat dapat disampaikan melalui karya yang relevan bagi masyarakat nasional maupun global.
Ia menegaskan bahwa kesempatan untuk melahirkan kreator berkualitas tidak terbatas pada kota-kota besar. Daerah dengan karakter budaya yang kuat juga memiliki peluang untuk menghasilkan karya yang bernilai.
“Kreator hebat tidak hanya lahir di pusat, tetapi tumbuh dari daerah, termasuk dari sebuah pulau di tengah danau,” katanya.
Melalui lokakarya tersebut, peserta diharapkan mampu meningkatkan keterampilan mengamati lingkungan, menggali informasi, serta menyusun narasi yang berpijak pada kenyataan. Kemampuan tersebut diharapkan membantu kreator Samosir menghasilkan karya fotografi dan tulisan yang memperkenalkan identitas budaya serta kehidupan masyarakat setempat kepada khalayak yang lebih luas.
Sumber:Antaranews.com