ekonomi regional

BI Nilai Tekanan Rupiah Imbas Pengumuman MSCI Masih Terkendali, Siapkan Intervensi Jika Diperlukan

admin Diperbarui 17:38 4 menit membaca
Foto: antaranews.com
Ukuran Teks:

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih berada dalam batas yang dapat dikelola. Bank sentral terus memantau pergerakan pasar keuangan, terutama potensi keluarnya modal asing dan dampaknya terhadap stabilitas rupiah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pelemahan rupiah setelah pengumuman MSCI memang sempat membawa nilai tukar melewati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, menurut dia, pergerakan tersebut belum menunjukkan tekanan yang berlebihan.

“Sejauh ini, kalau kami lihat, masih manageable. Tidak berlebihan pergerakan nilai tukarnya. Sempat melemah di atas Rp18.000 (pascapengumuman MSCI), tapi tidak terlalu jauh. Kita masih bisa kelola dengan baik. Dan mudah-mudahan shock-nya secara perlahan mulai di-digest oleh pelaku pasar,” kata Erwin di Jakarta, Jumat.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah MSCI mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market pada Kamis (15/10) waktu setempat.

Pengumuman itu memicu respons negatif di pasar saham domestik. Pada Jumat (16/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebesar 11,57 persen. Sementara itu, kurs rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat sebesar Rp18.052 per dolar AS.

BI Pantau Arus Modal Keluar dari Pasar Keuangan

Selain pergerakan nilai tukar, BI mencermati aliran modal keluar atau outflow yang terjadi di sejumlah instrumen keuangan. Erwin mengungkapkan, arus keluar modal terpantau di pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Meski demikian, Erwin tidak merinci besaran arus modal keluar tersebut. BI memilih memastikan ketersediaan likuiditas rupiah tetap memadai agar transaksi di pasar keuangan dapat berlangsung dengan baik.

Langkah menjaga likuiditas menjadi salah satu upaya untuk meredam tekanan yang muncul akibat perubahan sentimen investor. Bank sentral juga membuka kemungkinan melakukan intervensi apabila tekanan arus modal keluar mulai memengaruhi nilai tukar secara signifikan.

Menurut Erwin, intervensi dapat dilakukan ketika volatilitas rupiah bergerak melampaui batas toleransi, terutama jika permintaan dan penawaran valuta asing tidak bertemu di pasar.

Dengan demikian, pemantauan BI tidak hanya berfokus pada pelemahan rupiah, tetapi juga pada kondisi transaksi valuta asing dan perkembangan arus dana di pasar keuangan.

Kebijakan Suku Bunga dan Insentif Lindung Nilai Diperkuat

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen. Suku bunga lending facility juga tetap berada di angka 6,5 persen.

Di sisi lain, suku bunga deposit facility dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.

BI turut memperkuat insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), yang digunakan sebagai sarana lindung nilai atau hedging. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong masuknya modal asing sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Insentif biaya lindung nilai diberikan untuk transaksi yang memiliki dasar pendanaan luar negeri atau underlying, meliputi arus masuk investasi portofolio (portfolio inflows), pinjaman luar negeri oleh perbankan, serta investasi langsung asing atau foreign direct investment.

Melalui kebijakan tersebut, pengurangan premi DNDF untuk tenor enam bulan ditingkatkan menjadi 40 persen dari sebelumnya 25 persen. Sementara itu, untuk tenor 12 bulan, pengurangan premi naik menjadi 45 persen dari sebelumnya 30 persen.

Peningkatan insentif ini menjadi salah satu instrumen yang disiapkan BI untuk memperkuat daya tarik transaksi lindung nilai sekaligus mendukung pengelolaan risiko nilai tukar di tengah perubahan sentimen pasar.

BI Waspadai Dampak Sentimen Asing terhadap Rupiah

Sebelumnya, Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa bank sentral terus mengawasi perkembangan pasar saham domestik setelah pengumuman MSCI, termasuk potensi arus modal asing keluar dari Indonesia.

Dalam konferensi pers RDG BI pada Rabu (21/10), Destry mengatakan BI telah melakukan asesmen terhadap risiko yang muncul akibat pengumuman tersebut. Berdasarkan penilaian bank sentral, tekanan terhadap rupiah masih berada dalam batas yang cukup normal, terlebih kondisi pasar regional pada saat bersamaan juga menghadapi situasi yang kurang kondusif.

“Dan sejauh ini dua hari kemarin memang kami duduk berdiskusi secara tight (ketat) sekali bagaimana kita menyikapi ini,” kata Destry.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa BI menghadapi dua perhatian utama, yakni menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi perubahan aliran modal di pasar domestik. Bank sentral mengandalkan pemantauan likuiditas, kesiapan intervensi, serta penguatan insentif lindung nilai untuk merespons dinamika tersebut.

BI berharap dampak pengumuman MSCI dapat diserap secara bertahap oleh pelaku pasar sehingga gejolak yang terjadi tidak berkembang menjadi tekanan berkelanjutan terhadap stabilitas nilai tukar.

Sumber:antaranews.com

Tinggalkan komentar