ekonomi regional

Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat, Pertamina Siapkan Kilang Hijau di Cilacap

admin Diperbarui 17:33 6 menit membaca
Foto: Antaranews.com
Ukuran Teks:

Cilacap – Minyak jelantah yang selama ini dikenal sebagai limbah rumah tangga mulai mendapat perhatian sebagai bahan baku alternatif untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pemanfaatan ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah sekaligus mendukung pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan.

PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap mengembangkan pemanfaatan bahan baku terbarukan tersebut melalui serangkaian pengujian produksi SAF. Perusahaan juga menyiapkan pembangunan fasilitas pengolahan khusus yang ditujukan untuk memperbesar produksi bahan bakar berbasis sumber daya terbarukan.

Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Agustiawan, mengatakan pengembangan SAF membutuhkan proses panjang. Kesiapan teknologi, ketersediaan bahan baku, serta kepastian pasar menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan.

Upaya pengembangan itu telah dimulai sejak Desember 2020 melalui metode co-processing, yaitu pengolahan bahan baku terbarukan bersama bahan baku konvensional dengan memanfaatkan fasilitas pengolahan yang tersedia.

Perjalanan pengembangan SAF dimulai dari tahap uji coba

Pada tahap awal, Pertamina menguji penggunaan Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO) dengan tingkat injeksi sebesar 2 persen dan menggunakan katalis Pertamina. Pengujian berikutnya pada Februari 2021 meningkatkan persentase injeksi bahan tersebut menjadi 2,4 persen.

Pengembangan kemudian berlanjut pada pengujian penggunaan bahan bakar dalam penerbangan. Pada Oktober 2021, SAF digunakan dalam uji terbang pesawat CN235 dengan rute Bandung-Jakarta.

Pada 2023, pengujian dilanjutkan melalui penerbangan komersial menggunakan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800NG pada rute pulang-pergi Jakarta-Solo.

Tahapan tersebut menjadi bagian dari upaya menguji pemanfaatan bahan bakar alternatif untuk sektor penerbangan. Selain mengembangkan proses produksi, penggunaan SAF juga perlu melalui pengujian dan pemenuhan persyaratan sebelum diterapkan lebih luas.

Pada 2024, Pertamina mulai mengembangkan produksi SAF berbahan baku used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah. Pengembangan ini disertai perubahan katalis dengan formulasi dari Teknologi Informasi Pertamina serta sertifikasi ISCC CORSIA yang berkaitan dengan standar keberlanjutan bahan bakar penerbangan.

Jelantah membuka peluang ekonomi sirkular

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF menjadi salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular. Dalam pendekatan ini, bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diupayakan kembali masuk ke rantai produksi sehingga memiliki nilai ekonomi.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan pengembangan SAF merupakan bagian dari upaya perusahaan menyesuaikan produk dan layanan energi dengan perkembangan industri, termasuk kebutuhan sektor penerbangan terhadap bahan bakar yang lebih berkelanjutan.

“Bagi kami, keberlanjutan dan ketahanan energi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dibangun secara bersamaan,” ujar Kitty.

Menurut dia, penggunaan UCO dalam pengembangan SAF memberikan peluang untuk mengintegrasikan sumber daya yang sebelumnya menjadi limbah ke dalam rantai nilai energi.

Namun, pemanfaatan jelantah dalam skala industri tidak cukup hanya mengandalkan proses pengolahan. Ketersediaan bahan baku dengan volume dan mutu yang sesuai juga menjadi faktor penting agar produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Karena itu, Pertamina mempersiapkan pengembangan rantai pasok dengan melibatkan masyarakat melalui skema bisnis ke konsumen. Sementara itu, pengadaan bahan baku melalui skema bisnis ke bisnis disiapkan untuk menjaga kepastian pasokan.

Sejumlah pihak yang tercantum dalam rencana kerja sama tersebut meliputi Sumitomo, Badan Gizi Nasional, Noovoleum, GAPULIMGI, GML, dan Kementerian Koperasi. Pertamina juga mencantumkan kerja sama penjualan melalui sales and purchase agreement (SPA) dengan Cathay.

Keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk membangun ekosistem yang mencakup pengumpulan bahan baku, pengadaan, pengawasan kualitas, hingga hubungan dengan calon pembeli.

Kilang hijau Cilacap disiapkan untuk meningkatkan kapasitas produksi

Selain mengembangkan metode co-processing, Pertamina menyiapkan pembangunan biorefinery atau fasilitas pengolahan yang dirancang khusus untuk menghasilkan bahan bakar berbasis bahan baku terbarukan.

Proyek tersebut diproyeksikan menjadikan Kilang Cilacap sebagai kilang hijau pertama di Indonesia yang difokuskan untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar.

Proyek Biorefinery Cilacap memasuki tahapan penting melalui peletakan batu pertama fase kedua pada Februari 2026. Berbeda dengan metode co-processing yang memanfaatkan fasilitas pengolahan yang sudah ada, proyek ini dirancang sebagai standalone dedicated green refinery atau kilang hijau khusus.

Fasilitas pengolahan bioavtur tersebut direncanakan menempati lahan seluas 17,5 hektare di dekat Kilang Unit IV Cilacap. Nilai investasinya diperkirakan mencapai 1,1 miliar dolar AS, dengan target mulai beroperasi pada 2029.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Hermawan Budiantoro, mengatakan proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pada 2027.

“Kami target proyek itu jalan pada 2027,” kata Hermawan.

Fasilitas itu dirancang memiliki kapasitas pengolahan 6.000 barel per hari. Produk yang ditargetkan meliputi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dengan total produksi yang diproyeksikan mencapai sekitar 232.000 ton per tahun.

Untuk mendukung kapasitas tersebut, kebutuhan minyak jelantah diperkirakan mencapai 315.000 ton per tahun. Selain UCO, rencana pengembangan juga mencantumkan bahan baku lain berupa minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan palm oil mill effluent (POME).

Produksi SAF ditargetkan meningkat pada 2029

Saat ini, produksi SAF di unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) Kilang Cilacap disebut mencapai 27 kiloliter per hari.

Setelah fasilitas bioavtur yang direncanakan beroperasi, kapasitas produksi diproyeksikan bertambah sebesar 860 kiloliter per hari. Dengan demikian, total kapasitas produksi SAF diperkirakan mencapai 887 kiloliter per hari pada 2029.

Peningkatan tersebut diharapkan memperkuat kemampuan Pertamina dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Meski demikian, angka kapasitas dan jadwal operasional tersebut masih berupa target yang bergantung pada penyelesaian pembangunan, kesiapan fasilitas, serta kepastian pasokan bahan baku.

Proyek diproyeksikan membuka lapangan kerja dan menekan emisi

Pengembangan kilang hijau Cilacap juga diperkirakan memberikan dampak ekonomi di luar sektor energi. Pertamina memproyeksikan proyek tersebut berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) hingga Rp199 triliun per tahun dan menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja.

Dari sisi lingkungan, fasilitas itu diproyeksikan mampu mengurangi emisi tahunan sekitar 600.000 ton setara karbon dioksida (CO2e). Sementara itu, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) ditargetkan mencapai 30 persen.

Seluruh angka tersebut masih merupakan proyeksi, bukan hasil yang telah terealisasi. Besarnya dampak ekonomi dan lingkungan akan bergantung pada pelaksanaan proyek, tingkat produksi, ketersediaan bahan baku, dan kinerja fasilitas ketika mulai beroperasi.

Kepastian pasar menjadi faktor penting

Selain kesiapan teknologi, fasilitas produksi, dan pasokan bahan baku, pengembangan SAF membutuhkan pasar yang mampu menyerap produk secara berkelanjutan.

Pertamina memperkirakan potensi pasar SAF mencapai 160 ribu kiloliter per tahun untuk pasar domestik dan 139 ribu kiloliter per tahun untuk pasar ekspor. Angka tersebut menunjukkan peluang pasar yang dapat dikembangkan, tetapi belum menjadi jaminan bahwa seluruh produk akan terserap.

Strategi pengembangan pasar mencakup kebutuhan dalam negeri dan peluang ekspor. Dukungan kebijakan serta insentif dinilai menjadi bagian penting untuk menjaga daya saing bahan bakar berkelanjutan di tengah dinamika industri energi.

Kepastian permintaan juga berkaitan langsung dengan kebutuhan bahan baku. Ketika fasilitas membutuhkan pasokan minyak jelantah dalam jumlah besar, produsen harus menjaga keseimbangan antara kapasitas pengolahan, mutu bahan baku, dan kebutuhan pasar.

Bagi Kilang Cilacap, pengembangan SAF menjadi bagian dari transformasi industri pengolahan energi melalui perluasan pemanfaatan bahan baku alternatif.

Perjalanan minyak jelantah menuju bahan bakar penerbangan pada akhirnya tidak hanya bergantung pada teknologi pengolahan. Keberhasilannya juga membutuhkan pasokan yang konsisten, keterlibatan masyarakat, kerja sama antarpelaku usaha, kesiapan fasilitas, serta pasar yang mampu menyerap produk secara berkelanjutan.

Sumber:Antaranews.com

Tinggalkan komentar